Antara Kewajiban atas Hak

Oktober 31, 2007

Ada banyak hal yang terjadi dalam kehidupan, peristiwa yang datang silih berganti menandakan denyut kehidupan seperti tak terhenti, adakah sesuatu hal yang akan kau jadikan alas untuk menapaki jalan ini dan menjadi diri sendiri.

Secara sederhana hak adalah hal yang terkait dengan diri dan kepentingan diri, kewajiban adalah yang berada diluar itu, tanggungjawab manusia dengan manusia, manusia dengan tuhannya, manusia dengan alam. Jadi ada hal yang seharusnya jadi pertimbangan yang nantinya akan menjadi salah satu dasar mengambil keputusan dan bertindak serta hal yang terkait dengan prioritas dasar, keinginan memenuhi hasrat terpendam berkaitan dengan aktualisasi diri.

Kalau mau dirunut apa sebenarnya yang menjadikan kita bergerak dan mengambil keputusan dalam menghadapi kehidupan ini. Antara hak dan kewaiban harus tawazun (seimbang), tapi kadar keseimbangan itu seperti apa sebenarnya, yang saya pahami adalah bahwa setiap manusia sangat berbeda satu sama lain, baik kesiapan fisik, mental dan akal, ada kadar yang tidak sama. Namun yang saya percayai menusia memiliki hati yang sama yang Allah Ciptakan sebagai “pemberi fatwa” terakhir atas tindakan yang kita lakukan. Maka apa kadar dari keseimbangan adalah teroptimalkannya segala potensi manusia yang sesuai dengan kadar dan kemampuannya yang menjadikannya menjadi terbaik dari apa yang biasa ia capai.

Ingatlah bahwa manusia sesungguhnya diciptakan bukan hanya untuk beribadah dan menjadi khalifah dimuka bumi, tapi ada tugas lain yang Ia anugrahkan kepada kita, bahwa sesungguhnya kita telah disiapkan untuk menjadi orang yang sangat penting perannya dalam kehidupan ini. Kita sangat sadar bahwa peristiwa – peristiwa besar yang terjadi didunia ini adalah rangkaian dari peristiwa – peristiwa pendahuluan dan penunjang dari yang telah menciptakan peristiwa besar tersebut, yang perlu diingat bahwa setiap peristiwa besar tersebut diciptakan dari peristiwa – peristiwa kecil dan yakinlah bahwa apa yang kita lakukan adalah terkait dengan peristiwa besar tersebut, mungkin yang berbeda adalah kontribusi dan peran yang diambil dalam peristiwa besar tersebut, karena Allah juga tidak melihat kita dari kontribusi dan peran yang kita jalani dalam sandiwara kehidupan tapi dari KETAKWAAN dari keimanan kita sebagai hamba Allah SWT. Keimanan memang berbanding lurus dengan ketakwaan hanya sekali-sekali janganlah bersedih dan berlemah diri karena sesungguhnya kamu sekalian adalah orang-orang yang paling tinggi derajatnya.

Al-Qiyadah Al-Islamiyyah

Oktober 29, 2007

andrejosta_by_e336.jpg

Setelah melihat wawancara dengan pendiri ajaran Al-Qiyadah Al-Islamiyyah, Ahmad Moshaddeq, dengan salah satu TransTV pada kamis sore diacara Reportase, bahwa ajaran yang dibawa oleh Ahmad Moshaddeq,secara global Al-Qiyadah Al-Islamiyyah sebagai sebuah gerakan dengan pemahaman keagamaan, telah menerbitkan sebuah tulisan dengan judul “Tafsir wa Ta’wil”. Tulisan setebal 97 hal + vi disertai dengan satu halaman berisi ikrar yang menjadi pegangan jama’ah Al-Qiyadah Al-Islamiyyah.
Sebagai gerakan keagamaan yang menganut keyakinan datangnya seorang Rasul Allah yang bernama Al-Masih Al-Maw’ud pada masa sekarang ini, mereka melakukan berbagai bentuk penafsiran terhadap Al-Qur’an dengan tanpa kaidah-kaidah penafsiran yang dibenarkan berdasarkan syari’at, ayat-ayat Al-Qur’an dipelintir sedemikian rupa agar bisa digunakan sebagai dalil bagi pemahaman-pemahamannya yang sesat. Ajaraan jaamah ini selain tidak mewajibkan sholat lima waktu dan puasa di bulan ramadhan, syahadat yang mereka ucapkan juga menganti nama Nabi Muhammad dengan Al Masih Al Ma’ud, nabi yang mereka percayai.
Sebagai contoh, kesesatan mereka adalah bagaimana mereka menafsirkan ayat:
“Lalu Kami wahyukan kepadanya: “Buatlah bahtera dibawah penilikan dan petunjuk Kami.” (Al-Mu’minuun :27)
Maka, mereka katakan bahwa kapal adalah amtsal (permisalan,ed) dari qiyadah, yaitu sarana organisasi dakwah yang dikendalikan oleh Nuh sebagai nakoda. Ahli Nuh adalah orang-orang mukmin yang beserta beliau, sedangkan binatang ternak yang dimasukkan berpasang-pasangan adalah perumpamaan dari umat yang mengikuti beliau. Lautan yang dimaksud adalah bangsa Nuh yang musyrik itu….. (lihat tafsir wa ta’wil hal.43).
Demikianlah upaya mereka mempermainkan Al-Qur’an guna kepentingan gerakan sesatnya. Sungguh, seandainya Al-Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah -shallallahu ‘alihi wasallam- boleh ditafsirkan secara bebas oleh setiap orang, tanpa mengindahkan kaidah-kaida penafsiran sebagaiman dipahami slaful ummah, maka akan jadi apa islam yang mulia itu ditengah pemeluknya ? Al-Qiyadah Al-Islamiyyah hanya sebuah sample dari sekian banyak aliran/paham yang melecehkan Al-Qur’an dengan cara melakukan interpretasi atau tafsir yang tidak menggunakan ketentuan yang selaras dengan pemahaman yang benar.
Buku Tafsir wa Ta’wil ini berusaha menyeret pembaca kepada pola pikir sesat melalui penafsiran ayat-ayat mutasyabihat menurut versi Al-Qiyadah Al-Islamiyyah sebagaimana diungkapkan pada hal. iii poin 4 : “Kegagalan orang-orang memahami Al-Qur’an adalah mengabaikan gaya bahasa Al-Qur’an yang menggunakan gaya bahasa alegoris. Bahasa simbol untuk menjelaskan suatu fenomena yang abstrak.”
Mutasyabihat dianggap sebagai majazi sebagaimana pada hal. 39 alenia terakhir.
Penyimpangan-penyimpangan yang ditemukan dalam buku ini adalah sebagai berikut:
A. Secara garis besar ayat-ayat mutasyabihat (menurut versi mereka) ialah yang berbicara tentang Hari Kiamat dan Neraka dianggap simbol dari hancurnya struktur tentang penentang Nabi dan Rasul, dan pada masa Rasulullah hancurnya kekuasaan jahiliyyah Quraisy yang dihancurkan oleh Rasul dan para shahabatnya.
Lihat:
1. Tafsir Al-Haqqah:16;21
2. Tafsir ayat 6 dari surat Al-Ma’arij hal 30.
3. Tafsir ayat 17 dari surat Al-Muzammil hal. 62.
B. Pengelompokan manusia menjadi tiga golongan:
1. Ashabul A’raf adalah Assabiqunal awwalun.
2.Ashabul yamin adalah golongan anshar.
3. Ashabul syimal golongan oposisi yang menentang Rasul, lihat hal. 24.
C. Penafsiran Malaikat yang memikul ‘Arsy pada surat Al-Haqqah ayat 17 diartikan para ro’in atau mas’ul yang telah tersusun dalam tujuh tingkatan struktur serta kekuasaan massa yang ada dibumi. Lihat hal. 24.
D. Penafsiran (man fis samaa’/siapakah yang ada di langit) dalam surat Al-Mulk ayat 16 diartikan benda-benda angkasa dan pada ayat 17 diartikan yang menguasai langit, menunjukkan bahwa mereka tidak tahu sifat ‘uluw/ketinggian Allah atau bahkan mereka mengingkarinya.
E. Penafsiran (As-Saaq/betis) pada surat Al-Qalam ayat 42, dengan dampak dari perasaan takut ketika menghadapi hukuman atau adzab, lihat hal 18, ini menunjukkan bahwa mereka tidak tahu bahwa Allah memiliki betis atau mengingkarinya.
F. Kapal Nuh adalah bahasa mutasyabihat dari Qiyadah yaitu sarana organisasi dakwah yang dikendalikan oleh Nuh sebagai nakoda ….lihat hal. 42 dan 43.
G. Mengingkari hakekat jin dan diartikan sebagai manusia jin yaitu jenis manusia yang hidupnya tertutup dari pergaulan manusia biasa, yaitu manusia yang mamiliki kemampuan berpikir dan berteknologi yang selalu menjadi pemimpin dalam masyarakat manusia. Golongan jin yang dimaksud pada surat Al-Jin adalah orang-orang Nasrani yang shaleh yang berasal dari utara Arab, lihat tafsir surat Al-Jin hal.16…dst. Dan raja Habsyi yang bernama Negus termasuk golongan manusia jin yang dimaksud dalam Al-Qur’an dalam surat Al-Jin, lihat hal.52.
H. Mengingkari pengambilan persaksian dari anak-anak Adam dialam ruh atas rububiyah Allah yang merupakan penafsiran surat Al-A’raf ayat 173, lihat tafsir surat Al-Insan hal. 85.
I. Menyatakan bahwa penciptaan Adam dan Isa bin Maryam adalah unsur-unsur mineral menjadi kromosom yang kemudian diproses menjadi sperma, lihat hal. 85.
Dan masih banyak lagi penyimpangan-penyimpangan yang lainnya.
Selanjutnya melalui buletin ini kami menghimbau kepada seluruh kaum muslimin dimana saja berada untuk senantiasa waspada dan mewaspadai gerakan sesat ini yang menamakan dirinya dengan Al-Qiyadah Al-Islamiyyah, diantara ciri-ciri mereka ialah tidak menegakkan shalat lima waktu, berbicara agama dengan dengan menggunakan logika, mencampuradukan antara Islam dengan Kristen,… dll.
http://www.salafy.or.id/modules/artikel2/artikel.php?id=1174
http://www.okezone.com – Buku Ajaran Al Qiyadah Al Islamiyah Beredar di DIY
http://www.antara.com – ANTARA News MUI Aliran Al-Qiyadah Al-Islamiyah Sesat

GURU ZEN DAN SEORANG KRISTEN

Oktober 26, 2007

 Alkisah disebuah tempat

3450741.jpg

Seorang Kristen suatu hari mengunjungi seorang Guru Zen dan
berkata:

‘Bolehkah aku membacakan beberapa kalimat dari Khotbah di
Bukit?’

‘Silahkan, dengan senang hati aku akan mendengarkannya,’
kata Guru Zen itu.

Orang Kristen itu membaca beberapa kalimat, lalu berhenti
sejenak dan melihat Guru. Guru tersenyum dan berkata: ‘Siapa
pun yang pernah mengucapkan kalimat-kalimat ini, pastilah
sudah mendapatkan penerangan budi.’

Orang Kristen senang. Ia meneruskan membaca. Sang Guru
menyela dan berkata: ‘Orang yang mengucapkan ajaran ini,
sungguh dapat disebut Penyelamat dunia!’

Orang Kristen itu gembira ria. Ia terus membaca sampai
habis. Lalu sang Guru berkata: ‘Khotbah itu disampaikan oleh
Seorang yang memancarkan cahaya ilahi.’

Sukacita orang Kristen itu meluap-luap tanpa batas. Ia minta
diri dan bermaksud kembali untuk meyakinkan Guru Zen itu,
agar ia sendiri sepantasnya menjadi seorang Kristen juga.

Dalam perjalanan pulang ke rumahnya, ia berjumpa dengan
Kristus di pinggir jalan. ‘Tuhan,’ serunya dengan penuh
semangat, ‘Saya berhasil membuat orang itu mengaku bahwa
Engkau adalah Tuhan.’

Jesus tersenyum dan berkata: ‘Apa gunanya hal itu bagimu,
selain membesarkan ego, Kristenmu?’

(Burung Berkicau, Anthony de Mello SJ,
Yayasan Cipta Loka Caraka, Cetakan 7, 1994)